• Home
  • About
  • Committee
  • News
  • Download
  • Contact
News
 
Image

Derita Anak Seorang Penderita Kusta

“Namaku Adi (bukan nama sebenarnya), umurku 15 tahun.  Aku tinggal di sebuah daerah di Kalimantan Barat.  Ibuku sudah meninggal sejak aku masih kecil dan aku tinggal bersama Bapakku.  Tapi keadaan makin berubah semenjak Bapak terkena penyakit yang awalnya aku tidak tahu penyakit apakah itu.  Tangan Bapak memutih, lama kelamaan sekujur tubuhnya semakin banyak bercak-bercak putih dan kata Bapak, dia seperti kebas tak bisa merasakan apapun di kulitnya. Lalu entah bagaimana jari-jemarinya mulai lepas.  Ternyata itu adalah penyakit kusta.  Yang semakin membuat aku sedih, kami diusir dari rumah oleh tetangga-tetangga dan keluarga lainnya karena kami dianggap pembawa malapetaka yang mengerikan.  Kami pun disuruh tinggal di sebuah gubuk kecil yang terpencil jauh dari desa di kawasan kuburan.  Aku tidak mengalami sakit seperti yang Bapakku alami, badanku benar-benar sehat!  Tapi aku juga ikut merasakan dikucilkan dari masyarakat.  Bahkan tak jarang orang yang takut untuk berbicara mendekat padaku apalagi menyentuhku.  Saat ini, meskipun Bapakku sudah sembuh pun, tak ada perbedaan perlakuan mereka terhadap kami.  Tetap saja kami tinggal di kuburan dan tak boleh kembali ke tengah-tengah lingkungan desa kami.  Sampai kapan kami hidup seperti ini, aku juga tidak tahu.  Hari-hariku harus aku jalani dengan membiasakan diri tak banyak bersosialisai dengan orang-orang sekitar. Tapi aku sangat bersyukur kepada Tuhan ketika masih ada orang-orang yang tak ragu mendekat dan mau berbicara dengan kami termasuk GPDLI yang datang memberi semangat hidup untuk kami, dan juga memulihkan kepercayaan diriku.  Terima kasih, Tuhan karena Engkau tidak pernah menolak kami meskipun orang-orang di sekitar menolak kami. ”

Jumlah penderita kusta di Indonesia menduduki peringkat ketiga di dunia setelah India dan Brazil dan masih tinggi tingkatnya terutama di daerah.  Kasus kusta baru juga terus meningkat setiap tahunnya. Namun demikian, masih saja banyak kasus tidak terdeteksi setiap tahun, terutama di daerah yang sangat terpencil di mana perawatan kesehatan bahkan yang mendasar pun masih sangat terbatas.

Meskipun orang yang terkena kusta telah menyelesaikan pengobatan medis mereka, tetapi mereka tetap memiliki cacat dan parahnya mereka menderita akibat stigma masyarakat.  Akibatnya mereka mengalami penolakan dan pengusiran dari keluarga dan masyarakat yang seringkali hal ini lebih banyak menimbulkan kerusakan bagi penderita dibandingkan penyakit itu sendiri. 

Penyakit kusta di jaman sekarang sudah berbeda jauh dengan penyakit kusta pada pada jaman Tuhan Yesus.  Tak seperti dulu, kusta kini dapat sembuh, dengan pengobatan 6-24 bulan tergantung tingkat penyakitnya.  Namun sangat disayangkan pola pandang masyarakat  masih belum berubah terhadap orang dengan penyakit kusta.  Tak hanya bagi penderita, beban ini juga dirasakan oleh keluarga, terutama anak-anak yang ikut menanggu akibat stigma sosial masyarakat. 

Orang yang terkena kusta membutuhkan lebih dari sekedar obat-obatan!  Belas kasihan dan tindakan nyata lebih mereka butuhkan terlebih setelah masa rehabilitasi mereka.  Dengan pendidikan, pelatihan kerja, konseling dan rehabilitasi sosial-ekonomi, mereka akan sangat terbantu. 

Seperti yang Tuhan Yesus teladankan, kita dimampukan untuk berbelas kasihan dan bertindak bagi mereka yang tertolak untuk memenuhi hak-hak asasi mereka. 

(Sumber: Gerakan Peduli Disabilitas dan Lepra Indonesia www.pedulidisabilitas.org)

View : 1311